Sabtu, November 15, 2008
PELAYANAN ANAK: SUATU MANDAT ILAHI
Sabtu, Oktober 25, 2008
KEADILAN DAN KASIH
Suatu kali, terjadi pencurian sapi milik seorang anggota suku. Mendapat laporan itu, Kepala Suku mengumpulkan rakyatnya dan berkata bahwa siapapun yang melakukan pencurian itu akan dihukum cambuk 20 kali. Ia berharap agar ancaman tersebut dapat menghentikan pencurian tersebut. Tetapi, tiga hari kemudian, ada lagi warga yang lain yang mengadukan kehilangan ternak miliknya. Kepala Suku kecewa. Dan ia memberi tahu rakyatnya bahwa ia telah menaikan ancaman hukuman menjadi 50 kali hukuman cambuk. Sekali lagi, Kepala Suku berharap bahwa pencurian tersebut adalah yang terakhir. Ia salah. Dua hari setelah pemberitahuan kenaikan ancaman tersebut, masih ada warga yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Kepala Suku sudah bukan kecewa lagi, tetapi marah besar. Dan, ia menaikan ancaman hukuman menjadi 75 kali cambuk.
Seminggu setelah itu, terjadi keramaian di salah satu sudut wilayah sukunya. Orang berkerumun. Di tengah-tengah kerumunan itu seorang pemuda berusia 20-an tahun sedang tersungkur setelah dipukuli warga suku karena kedapatan sementara berusaha mencuri kambing warga suku. Mereka menginterogasi pemuda itu dan mendapati bahwa ia adalah orang yang sama yang telah melakukan pencurian yang meresahkan suku. Rakyat kemudian membawanya ke hadapan Kepala Suku. Dengan wajah tertunduk, pemuda itu berjalan ke rumah Kepala Suku hingga ia tiba di hadapan pemimpin suku tersebut. Kepala Suku mendekat untuk berusaha melihat wajah pemuda yang telah berlumuran darah tersebut. Betapa kagetnya ia, ternyata pemuda itu adalah anaknya sendiri. Kepala Suku menghadapi dilema. Haruskah ia selaku Kepala Suku menjalankan keadilan dengan melaksanakan ancaman hukuman cambuk 75 kali tersebut, ataukah ia sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya membatalkan pelaksanaan ancaman hukuman tersebut. Ia menyadari bahwa kedua perannya tersebut bukan harus dipertentangan, tetapi harus diharmoniskan. Ia adalah seorang yang berhikmat.
Kepala Suku bertitah bahwa hukuman harus dilaksanakan. Hukum harus diberlakukan tanpa pandang bulu. Warganya, walaupun sangat terharu, makin kagum dengan kepemimpinan pemimpin mereka. Keesokan harinya, sang pemuda dengan punggung telanjang telah diikat di suatu tiang di tengah lapangan terbuka, dengan seorang algojo berbadan besar yang memegang cambuk. Ia hari itu bertugas mencambuk punggung pemuda tersebut 75 kali.
Dari atas tempat duduknya di panggung, Kepala Suku dengan sangat pedih hati, memerintahkan agar hukuman dipersiapkan. Aba-aba terakhir akan diberikan oleh Kepala Suku sendiri. Algojo mengambil tempat di dekat pemuda, dan mempersiapkan cambuknya. Ketika ia mengangkat tanggannya pada posisi tertinggi dan menanti komando dari Kepala Suku, ia bukan mendengar komando untuk mencambuk, tetapi "Tunggu...!", teriak sang Kepala Suku.
Dan, Kepala Suku bergegas turun mendekati anaknya. Setiba di hadapan sang algojo, Kepala Suku membuka baju kebesarannya, dan makin mendekati anaknya. Warganya terkejut ketika Kepala Suku tiba-tiba memeluk anaknya yang terikat di batang pohon dan menempelkan seluruh dadanya di punggung anaknya sehingga seluruh tubuh Kepala Suku yang besar itu menutupi seluruh tubuh sang pemuda.
Kepala Suku kemudian memberikan komando eksekusinya. Setiap kali cambukan menghantam tubuh Kepala Suku, ia berkata kepada anaknya "Ayah mengasihimu, anakku...!". Saat itulah keadilan dan kasih menjadi suatu keharmonisan dalam waktu dan tempat yang sama.
Keharmonisan yang lebih besar lagi, yakni antara Keadilan dan Kasih ALLAH telah terjelma di kayu salib Yesus yang mati bagi kita. Adakah kita kini masih tega menyalibkan Kristus lagi dengan dosa-dosa kita?
Rabu, Oktober 22, 2008
PERANGKAP DOSA
Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari dan mengikat (menanam) toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.
Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang sedang digenggamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.
Kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, terus terperangkap dalam dosa, karena kita tidak mau melepaskan kesenangan-kesenangan, benda-benda yang dapat menjerumuskan kita dalam dosa.
KRISTUS TELAH MENEBUS KITA DARI SEMUA DOSA DAN PELANGGARAN JADI HIDUPLAH DALAM KEKUDUSAN, JANGAN TERJEBAK DALAM PERANGKAP DOSA. (ROMA 6:11)
Jumat, Oktober 17, 2008
DAPATKAH DUA ORANG BERJALAN BERSAMA?
Tetapi yang aneh, pemilik kedua sapi jantan tersebut malah memberikan semangat atau dorongan kepada sapi-sapi itu agar terus bertarung sampai ada yang kalah. Mula-mula yang satu didera lalu yang lainnya jika kelihatannya sapi-sapi jantan itu hendak berhenti bertarung. Deraan tersebut nampaknya dilakukan terus agar kedua sapi jantan itu marah dan bertarung terus, menyodorkan tontonan gratis.
Saya terheran-heran, maka saya pun bertanya, "Mengapa sapi-sapi itu tidak dihentikan agar tidak berkelahi terus? Mengapa kedua sapi itu malah dihasut terus agar berkelahi dengan sengit?"
"Apa!?" jawab si pemilik kedua sapi itu, "Saya baru saja membeli kedua sapi jantan itu dan saya tidak bisa menggunakannya sebagai satutim untuk menarik gerobak-gerobak ini, sebab mereka berkelahi terus. Karena itu keduanya harus bertarung dulu untuk menentukan yang mana dari keduanya yang akan menjadi bos. Salah satu dari sapi jantan ini pasti akan menyerah sehingga yang satunya menang, sekali untuk selamanya. Maka saya pun akan bisa menggunakan mereka untuk menarik gerobak-gerobak saya ini. Jika saya mengikat mereka sebagai pasangan untuk menarik gerobak ini sebelum keduanya berkelahi memperebutan posisi sebagai bos, maka yang satu akan menarik gerobak ini ke timur sedangkan yang satunya bisa menariknya ke barat, lalu akan berputar-putar terus laksana perputaran jarum jam."
"Ketaatan diperlukan bila hendak maju secara rohani"
Minggu, September 28, 2008
BUAH KESABARAN

Sebab kamu memerlukan ketekunan,supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah,
kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.(Ibrani 10:36)
Catatan sejarah dunia telah mencantumkan sejumlah besar nama penting yang menoreh keberhasilan karena bersedia tekun/sabar. Sebut saja Beethoven. Setiap karya musikalnya harus ditulis sekurang-kurangnya dua belas kali. Josef Haydn membuat lebih dari delapan ratus komposisi musik sebelum menghasilkan The Creation yang menjadikan sangat terkenal.
Jauh sebelum buah dari kesabaran atau ketekunan ini dialami oleh para tokoh dunia ini, firman Tuhan sudah memberikan petunjuk. Seyogianya seseorang memerlukan ketekunan. Jika kita bertekun dan setia dalam melaksanakan hal apapun yang Tuhan percayakan bagi kita, hasil akan kita peroleh.
Penulis Ibrani menyadari bahwa hal putus asa dan kecewa sedang menghantui perjalanan rohani para penerimanya. Sama halnya dengan kita dewasa ini. Bila sedang putus asa atau kecewa dengan keadaan hidup kita dalam mengikut Tuhan, bacalah kembali ayat ini sekuat-kuatnya. Kita memang perlu lebih tekun lagi dan sabar.
Tujuannya agar kita dapat bertahan dan akan memperoleh hasil yang Tuhan janjikan kepada kita. Ingatlah bahwa selama kita masih hidup, perjalanan dan tanggung jawab kita belum usai. Majulah terus di dalam kekuatan kuasa Tuhan. Pada akhirnya kita akan menerima upah bila bertemu dengan kekasih jiwa kita, Yesus Kristus.
“Anda tidak akan menikmati buah kesabaran bila tidak memanfaatnya!!”
Jumat, September 19, 2008
Terapi untuk Tukang Kritik
Yesus Tuhan dan juruselamat kita sangat adil dalam memberikan hukum-hukum rohani untuk hidup bersama. Lihat saja pernyataan Matius 7:3 di atas. Di dalamnya tertera suatu pesan penting yaitu apapun yang tidak kita sukai dari orang lain, itu juga yang harus kita koreksi dari diri kita sendiri. Jika tidak, maka kita sudah bersikap tidak adil.
Siang itu, seorang wanita yang sering mengeluarkan kata-kata sindiran kepada orang lain kena ‘batunya’. Seorang rekan kerjanya dengan keras melontarkan kata-kata terguran atas suatu kesalahan yang telah dibuatnya. Karena posisinya lebih rendah, iapun diam saja. Ketika kembali ke ruangnya, iapun terdiam.
Dalam kekesalan hatinya, terdengar bisikan suara hati, “diamlah dan pikirkan dirimu.” Karena binggung dengan maksud suara itu, ia berusaha tenangkan pikirannya dan mulai bekerja. Sisa waktu kerjanya dipakai untuk diam dan pikirkan dirinya. Luar biasa hasilnya, kejadian itu menjadi kesempatan untuk koreksi diri.
Kesadaranpun muncul. Ia tidak akan menjadi seorang tukang kritik karena apa yang dialaminya sangat menyakitkan.
Benarlah perkataan Tuhan, jika kita ingin menjadi seorang yang ingin menjadi pengkritik, tolong periksa dulu, apakah kita telah benar dalam hal yang hendak kita kritik dari orang lain. Ini terapi yang paling ampuh untuk tukang kritik.
“Sebelum mengkritik, tolong periksa dulu dirimu dan pastikan Anda tidaklah demikian.!!”
Rabu, September 17, 2008
BERCERMIN PADA ALLAH YANG SEMPURNA
Di Jawa Timur terdapat sebuah tempat hiburan dan tempat belajar yang bernama JATIM PARK. Salah satu bagian yang ramai dikunjungi para pengunjung, khususnya pengunjung wanita adalah ‘cermin-cermin ajaib.’ Dikatakan ‘ajaib’ karena cermin-cermin itu bisa membuat orang yang gemuk, terlihat langsing atau yang kurus terlihat gemuk. Terserah kepada para pengunjung untuk memilih cermin mana yang mereka sukai.
Gambar bentuk tubuh yang terlihat pada cermin-cermin itu bukanlah gambar yang sesungguhnya. Bukan pula karena cermin-cermin itu memang ajaib. Yang sebenarnya terjadi ialah cermin-cermin itu dirancang dengan maksud memanipulasi keadaan yang sesungguhnya. Dengan demikian, bentuk tubuh yang dikehendaki sangat bergantung pada kaca cermin penilai itu.
Kondisi yang terpancar dari cermin-cermin yang sepertinya ajaib itu mengingatkan saya kepada dasar pertimbangan bagi penilaian diri kita. Kalau dalam hidup kita hanya semata-mata bercermin pada penilaian orang lain, maka kita akan kewalahan dan frustasi. Bagaimanapun, penilaian manusia itu relatif. Penilaian orang berbeda-beda terhadap kita. Sering kali penilaian itu bersifat ‘manupulatif’ atau menipu.
Puji Tuhan, karena pada hari ini, Tuhan memberikan dasar untuk bercermin yang sebenarnya. Kita semua harus bercermin pada Allah kita yang sempurna. Allah yang kita percayai di dalam Yesus, tidak pernah salah dan apapun yang DIA katakan tentang kita merupakan perkataan yang sesungguhnya. Yesus tidak pernah berbohong tentang keadaan kita. DIA Allah kita yang sempurna.
Itulah sebabnya ketika kita bercermin kepada Allah yang mahasempurna maka kita juga akan melihat diri kita yang sebenarnya. Kita akan tampil sebagai orang-orang yang originil dan bukannya hidup di dalam dunia ‘angan-angan’ saja. Kita akan terus menerus berupaya untuk berlaku seperti Allah kita yang sempurna itu. Oleh firman-Nya yang mahakuasa, kita akan diubahkan dari sehari demi sehari, hingga menjadi sama seperti DIA yang adalah sempurna.
“Orang yang bercermin dari BAPA sorgawi yang sempurna,
akan terus mengejar kesempurnaan dalam hidupnya. ”
Selasa, September 09, 2008
QUA VADIS: KEMANA KAMU MAU PERGI?
Mengikut Yesus dan melayani-Nya tidaklah mudah. Penyangkalan diri dan ketaatan menjadi tuntutan mutlak. Tantangan karena nama Tuhan menjadi bagian di dalamnya. Yesus telah bersabda, setiap orang yang hendak mengikut –Nya memang harus memikul salib. Kebenaran ini terbukti dalam kehidupan para rasul yang bergiat dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus. Seperti rasul Petrus, sang pemimpin gereja mula-mula. Ketika melaksanakan perintah Tuhan untuk mewartakan Injil ke Roma, rasul Petrus pernah mengalami masa-masa tersulit dalam pengiringan dan pelayanannya kepada Tuhan Yesus. Tekanan dalam pelayanannya sangat berat. Ia bersiap-siap untuk meninggalkan kota Roma.
Segera Petrus mempersiapkan semua perbekalannya dan meninggalkan kota Roma. Sementara berjalan itulah dia bertemu dengan seorang berjubah putih yang berjalan berlawan arah. Orang itu bertanya kepada Petrus, “QUA VADIS?” (bhs LATIN: Kemana kamu mau pergi?). Jawab Petrus, “meninggalkan Roma.” Orang itu menjawab, “Saya tetap akan ke Roma, apapun yang terjadi.” Petrus menyadari ini berasal dari Tuhan. Kenyataannya memang Yesuslah yang berjumpa dengannya. Pertanyaan Yesus ini berhasil menyadarkan rasul Petrus. Dia Diapun berbalik ke Roma dan menjadi martir bagi Yesus seperti yang telah dinubuatkan sebelumnya.
Mungkin hari ini kita seperti Simon Petrus, murid Yesus yang sedang putus asa dan bergegas untuk meninggalkan panggilan dan pelayanannya. Sebelum bertindak lebih lanjut, cobalah untuk dengar pertanyaan Yesus, “QUA VADIS?” Saran firman Allah, jangan putus asa tapi belajarlah dari Yesus. DIA telah menanggung seluruh tantangan yang berat untuk menyelesaikan tugas-Nya bagi kita. Sudah selayaknya kita juga bertahan hidup bagi DIA dan bukannya menjadi lemah dan putus asa. Ingatlah Tuhan Yesus beserta kita, jangan pernah menyerah, tetap bersemangat dan berjuang hingga akhirnya.
“Bila keputusasaan melanda hidupmu, segera ingat tindakan Yesus: DIA tetap bertahan dan menang. Kita juga haruslah demikian”
Jumat, September 05, 2008
SENJATA YANG MEMATIKAN
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. (Amsal 24:10)
Bila kesesakan telah menimpa hati seseorang, bentuk ekspresinya dapat saja terungkap dalam berbagai macam cara. Jika seseorang dapat mengendalikannya, ekpresi itu mungkin saja tidak terlihat oleh orang lain. Namun bagaimanapun menyembunyikan akan terbaca oleh orang di sekitarnya.
Amsal 24:10 memberitahu suatu pertalian yang harus dihindari ketika kesesakan menimpa hidup seseorang. Sebuah pantangan dalam menghadapi kesesakan ialah jangan menjadi ‘kecut hati’ atau berkecil hati. Ini akan menjadi senjata yang mematikan.
Larangan ini bertujuan menjaga daya juang kita. Ketika seseorang berkecil hati, daya juangnyapun berkurang. Bila daya juang berkurang, kemampuan untuk mengatasi kesesakanpun mengecil. Dengan demikian, pastikan hati kita tetap penuh semangat dalam Tuhan sekalipun kesesakan hidup terus melanda.
“Bentengi hati kita dengan semangat juang dalam Tuhan, kesesakan pun dapat diatasi.”



