Jumat, Agustus 14, 2009
TUHAN TIDAK PERNAH INGKAR JANJI
“Tuhan memperhatikan Sara seperti yang difirmankan-Nya
dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang difirmankan-Nya.” (Kejadian 21:1)
Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi ketika menunggu janji dari seseorang berupa ‘hadiah’ atau ‘barang’ yang kita sendiri sangat mengharapkannya. Saat menanti itu, perasaan kita akan bergejolak sedemikian rupa. Sara dan Abraham mengalami hal yang sama. Suami istri ini sedang menantikan janji Allah untuk memberikan anak kepada keduanya.
Nampaknya mustahil bagi mereka untuk mendapatkan anak. Penantian mereka cukup lama hingga Abraham berumur seratus tahun dan Sara istrinya sembilan puluh tahun. Berbeda dengan manusia, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Apapun yang dijanjikan-Nya pasti akan digenapi. Sarapun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya.
Bayangkanlah seorang nenek yang sudah tua rentah mengandung seorang bayi. Sungguh, hal ini akan menjadi pemandangan yang sangat menarik sekali di jaman modern ini. Apalagi di sisinya ada seorang kakek dengan senyum yang lebar sambil menjelaskan bahwa bayi itu adalah hasil perkawinan mereka. Sepertinya ini hanya terjadi dalam dongeng anak-anak. Dalam kenyataannya, sulit untuk mempercayai kejadian seaneh ini.
Memang menurut ukuran pikiran manusia, orang setua Abraham dan Sara tidaklah mungkin mendapatkan keturunan. Jangankan kita, Sara sendiri ketika Tuhan memberitahukan berita bahagia ini, iapun tertawa. Makanya tidak heran, Abraham memberikan nama Isak (artinya tertawa) kepada anak yang dilahirkan kepadanya dalam usia tua. Pemberian nama Isak itu bermaksud agar setiap orang tidak lagi menertawakan kesanggupan Tuhan untuk memenuhi janji-Nya.
Abraham dan Sara memberikan pelajaran penting bagi kita. Pelajarannya adalah bahwa sekalipun nampaknya Tuhan seperti berlambat dalam memenuhi janji-Nya, sebenarnya tidaklah demikian. Oleh karena itu, jangan pernah meragukan kemahakuasaan Tuhan dalam memenuhi janji-janji-Nya dalam hidup kita. Percayalah kepada Tuhan karena Tuhan tidak pernah ingkar janji.
“Tuhan setia pada janji-Nya. Dialah Allah yang tidak pernah ingkar janji.”
dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang difirmankan-Nya.” (Kejadian 21:1)
Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi ketika menunggu janji dari seseorang berupa ‘hadiah’ atau ‘barang’ yang kita sendiri sangat mengharapkannya. Saat menanti itu, perasaan kita akan bergejolak sedemikian rupa. Sara dan Abraham mengalami hal yang sama. Suami istri ini sedang menantikan janji Allah untuk memberikan anak kepada keduanya.
Nampaknya mustahil bagi mereka untuk mendapatkan anak. Penantian mereka cukup lama hingga Abraham berumur seratus tahun dan Sara istrinya sembilan puluh tahun. Berbeda dengan manusia, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Apapun yang dijanjikan-Nya pasti akan digenapi. Sarapun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya.
Bayangkanlah seorang nenek yang sudah tua rentah mengandung seorang bayi. Sungguh, hal ini akan menjadi pemandangan yang sangat menarik sekali di jaman modern ini. Apalagi di sisinya ada seorang kakek dengan senyum yang lebar sambil menjelaskan bahwa bayi itu adalah hasil perkawinan mereka. Sepertinya ini hanya terjadi dalam dongeng anak-anak. Dalam kenyataannya, sulit untuk mempercayai kejadian seaneh ini.
Memang menurut ukuran pikiran manusia, orang setua Abraham dan Sara tidaklah mungkin mendapatkan keturunan. Jangankan kita, Sara sendiri ketika Tuhan memberitahukan berita bahagia ini, iapun tertawa. Makanya tidak heran, Abraham memberikan nama Isak (artinya tertawa) kepada anak yang dilahirkan kepadanya dalam usia tua. Pemberian nama Isak itu bermaksud agar setiap orang tidak lagi menertawakan kesanggupan Tuhan untuk memenuhi janji-Nya.
Abraham dan Sara memberikan pelajaran penting bagi kita. Pelajarannya adalah bahwa sekalipun nampaknya Tuhan seperti berlambat dalam memenuhi janji-Nya, sebenarnya tidaklah demikian. Oleh karena itu, jangan pernah meragukan kemahakuasaan Tuhan dalam memenuhi janji-janji-Nya dalam hidup kita. Percayalah kepada Tuhan karena Tuhan tidak pernah ingkar janji.
“Tuhan setia pada janji-Nya. Dialah Allah yang tidak pernah ingkar janji.”
Senin, Agustus 10, 2009
ANAK ADALAH ANUG'RAH TUHAN

Ada alasan penting sehingga dalam waktu yang lama tidak menulis di blog ini. Semua karena Tuhan telah mengaruniakan kepada Saya dan suami, seorang anak laki-laki yang sangat cakep.
Pasca kelahiran Putra, anak kami... setiap kali melihatnya, Saya semakin menyadari.. kalau bukan Tuhan, tidak mungkin seseorang dapat lahir ke dunia. Ada kendala yang terjadi tapi anak itu bisa lahir ke dunia. Seorang ibu terbatas, dokter dan semua alat medis terbatas untuk bisa menjawab misteri ini. Anak benar-benar adalah anug'rah Tuhan. Saya kagum karena TUHAN menjadikan kita ke dunia mulai dari anak agar kita bertumbuh dan secara perlahan namun pasti dapat mengerti segala sesuatu.
Karena itu, ingatlah:
Sebagai seorang anak: Syukurilah keberadaanmu di dunia dan hormatilah ibumu, wanita yang menaruh 'nyawa' nya demi kelahiranmu.
Sebagai orang tua: Cintai dan didik anak-anak dalam kasih Kristus. Memang banyak tantangan taoi ada banyak sukacita juga dong...
Keluarga yang belum punya anak: sabar dan percaya bahwa Tuhan mengerti waktu yang tepat bagi kalian.
Memang.. anak adalah anugerah Tuhan semata-mata.
Kamis, Februari 19, 2009
APAKAH SEKOLAH MINGGU ITU??
Bagi mereka yang terlibat dalam pelayanan anak, ada sebuah pertanyaan besar, "Apakah Sekolah Minggu itu?" Bagaimanapun jawaban kita menentukan arah pelayanan kita. Itulah sebabnya pada kesempatan ini Saya hendak memberikan pemahaman yang Saya pikir dapat membantu para pembaca dimanapun berada.
APAKAH SEKOLAH MINGGU ITU?
Pengertian Kamus: Suatu wadah untuk seorang anak belajar dan guru mengajar khususnya di dalam pengertian Kristen.
Pengertian khusus: “Wadah pertemuan orang-orang dan orang-orang itu penting. Orang-orang itu disebut murid, yaitu orang yang menerima pengajaran dan bertumbuh untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Juga ada guru yang merupakan pengajar, pendidik dan pemberi teladan bagi anak didik tersebut hingga menjadi murid Kristus. Murid dan guru itu tergabung dalam kesatuan yang utuh untuk tujuan kemuliaan nama Yesus sang guru Agung.”
1. Sekolah Minggu merupakan suatu wadah yang terdiri dari orang-orang dan orang-orang itu penting: MURID & GURU. Murid= diajar dan bertumbuh mencapai sasaran yang ditetapkan. Guru=pengajar, pendidik dan pemberi teladan.
2. Tempat menjadikan seseorang murid Kristus
3. Tempat pembelajaran yang utuh
4. Tempat dimana kemuliaan nama Yesus sang guru Agung dinyatakan
Kiranya pengertian ini memberikan arah dan sasaran pelayanan yang benar bagi semua yang terlibat dalam pelayanan anak. Tuhan memberkati.
APAKAH SEKOLAH MINGGU ITU?
Pengertian Kamus: Suatu wadah untuk seorang anak belajar dan guru mengajar khususnya di dalam pengertian Kristen.
Pengertian khusus: “Wadah pertemuan orang-orang dan orang-orang itu penting. Orang-orang itu disebut murid, yaitu orang yang menerima pengajaran dan bertumbuh untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Juga ada guru yang merupakan pengajar, pendidik dan pemberi teladan bagi anak didik tersebut hingga menjadi murid Kristus. Murid dan guru itu tergabung dalam kesatuan yang utuh untuk tujuan kemuliaan nama Yesus sang guru Agung.”
1. Sekolah Minggu merupakan suatu wadah yang terdiri dari orang-orang dan orang-orang itu penting: MURID & GURU. Murid= diajar dan bertumbuh mencapai sasaran yang ditetapkan. Guru=pengajar, pendidik dan pemberi teladan.
2. Tempat menjadikan seseorang murid Kristus
3. Tempat pembelajaran yang utuh
4. Tempat dimana kemuliaan nama Yesus sang guru Agung dinyatakan
Kiranya pengertian ini memberikan arah dan sasaran pelayanan yang benar bagi semua yang terlibat dalam pelayanan anak. Tuhan memberkati.
SENJATA YANG MEMATIKAN
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. (Amsal 24:10)
Kesesakan dapat terjadi karena berbagai macam alasan. Kesesakan dapat saja terjadi karena kecewa terhadap seseorang atau situasi tertentu. Marah terhadap ketidakmampuan diri sendiri juga mampu menimbulkan kesesakan dalam hati.
Bila kesesakan telah menimpa hati seseorang, bentuk ekspresinya dapat saja terungkap dalam berbagai macam cara. Jika seseorang dapat mengendalikannya, ekpresi itu mungkin saja tidak terlihat oleh orang lain. Namun bagaimanapun menyembunyikan akan terbaca oleh orang di sekitarnya.
Amsal 24:10 memberitahu suatu pertalian yang harus dihindari ketika kesesakan menimpa hidup seseorang. Sebuah pantangan dalam menghadapi kesesakan ialah jangan menjadi ‘kecut hati’ atau berkecil hati. Ini akan menjadi senjata yang mematikan.
Larangan ini bertujuan menjaga daya juang kita. Ketika seseorang berkecil hati, daya juangnyapun berkurang. Bila daya juang berkurang, kemampuan untuk mengatasi kesesakanpun mengecil. Dengan demikian, pastikan hati kita tetap penuh semangat dalam Tuhan sekalipun kesesakan hidup terus melanda.
“Bentengi hati kita dengan semangat juang dalam Tuhan, kesesakan pun dapat diatasi.”
Kesesakan dapat terjadi karena berbagai macam alasan. Kesesakan dapat saja terjadi karena kecewa terhadap seseorang atau situasi tertentu. Marah terhadap ketidakmampuan diri sendiri juga mampu menimbulkan kesesakan dalam hati.
Bila kesesakan telah menimpa hati seseorang, bentuk ekspresinya dapat saja terungkap dalam berbagai macam cara. Jika seseorang dapat mengendalikannya, ekpresi itu mungkin saja tidak terlihat oleh orang lain. Namun bagaimanapun menyembunyikan akan terbaca oleh orang di sekitarnya.
Amsal 24:10 memberitahu suatu pertalian yang harus dihindari ketika kesesakan menimpa hidup seseorang. Sebuah pantangan dalam menghadapi kesesakan ialah jangan menjadi ‘kecut hati’ atau berkecil hati. Ini akan menjadi senjata yang mematikan.
Larangan ini bertujuan menjaga daya juang kita. Ketika seseorang berkecil hati, daya juangnyapun berkurang. Bila daya juang berkurang, kemampuan untuk mengatasi kesesakanpun mengecil. Dengan demikian, pastikan hati kita tetap penuh semangat dalam Tuhan sekalipun kesesakan hidup terus melanda.
“Bentengi hati kita dengan semangat juang dalam Tuhan, kesesakan pun dapat diatasi.”
Kamis, Januari 29, 2009
SILAHKAN MEMBENCI YANG BERIKUT INI


Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat dan mulut penuh tipu muslihat Amsal 8:13)
Kata benci berarti merasa sangat tidak suka kepada sesuatu, seseorang atau keadaan. Kebencian itu bukanlah sama sekali tidak perlu di dalam hidup kita, namun arah/sasarannya harus benar. Sebagai seorang anak Tuhan, sasaran kebencian kita bukanlah kepada manusia di sekitar kita, atau keadaan melainkan kepada tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kebenaran firman Allah.
Pemikiran semacam ini tertuang dalam Amsal 8:13 yang menerangkan mengenai pengertian atau definisi yang benar dari hal takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan mengharuskan seorang anak Tuhan untuk mengarahkan kebenciannya pada sasaran yang tepat. Sasarannya adalah membenci (merasa tidak suka) atau menolak kejahatan.
Berikut ini adalah beberapa kategori kejahatan yang perlu kita benci: bencilah kesombongan dan kecongkakan. Tes untuk mengetahui hal ini mudah sekali. Jika kita menaruh penghargaan yang berlebihan terhadap diri sendiri dan cenderung merendahkan orang lain, kita terbukti masih sombong dan congkak. Kita benci kesombongan dan kecongkakan bila kita melihat diri kita sebagai mana mestinya dan menghargai orang lain.
Selain itu, berkompromi dengan kesalahan dan bertindak secara tidak adil kepada hak-hak orang lain harus kita benci. Karena hal ini merupakan tingkah laku yang mengarah kepada kejahatan. Ketika menjaga diri dalam takut akan Tuhan, kita juga perlu menjaga kemurnian perkataan/ucapan kita. Inilah cara kita membenci mulut penuh tipu muslihat.
“Membenci perkara-perkara kejahatan adalah pengertian yang tepat dari hal takut akan Tuhan”
Rabu, Januari 28, 2009
SEGERA AMBIL KESEMPATAN TERBAIK ITU
Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita
(Lukas 19:6)
Hidup ini penuh dengan kesempatan yang tak terhitung banyaknya. Cobalah renungkan kembali perjalanan hidup Saudara, telah banyak kesempatan yang datang dalam hidup kita. Cara kita menanggapi setiap kesempatan yang datang dalam hidup kita merupakan faktor penentu keberhasilan hidup kita.
Jika kita tidak pernah menanggapi kesempatan itu dengan baik, maka kesempatan itu dapat saja terbang melayang dan kita menerika kerugian besar dalam hidup kita. Hari ini, kita perlu mengikuti jejak dari Zakheus, seorang yang berpostur kecil namun tidak mau kehilangan kesempatan emas untuk bertemu langsung dengan Yesus.
Sekalipun ada tantangan yang muncul dari keberadaan postur tubuhnya yang pendek, tetapi Zakheus tidaklah putus asa. Ia tetap berupaya untuk dapat bertemu langsung dengan Tuhan. Entahkan kita seperti Zakheus, yang pada hari ini sedang dikuasai oleh ketakutan, kepahitan, tidak mau mengampuni, atau emosi-emosi negatif lainnya? Akankah anda membiarkan hal-hal tersebut menyebabkan anda kehilangan kesempatan untuk melihat dan mengalami Allah yang hidup dan sejati?
Ikutilah teladan Zakheus. Begitu mendengar, perkataan Tuhan Yesus dalam ayat 5 yang berseru... “Zakheus, segelah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu,” Iapun segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Keselamatan, pembaharuan dan pemulihan terjadi atas kehidupannya. Semua itu terjadi karena pilihannya untuk menangkap kesempatan yang dihadirkan dalam hidupnya.
Kiranya sepanjang hari ini kita akan tekun dalam segala usaha dan kerja keras kita untuk bertemu dengan Yesus. Ketika bertemu DIA, dengarlah suara-Nya yang merdu yang akan memimpin kita kepada kemenangan hidup yang lebih besar lagi. Bila kita melakukannya, maka upah mulia akan menjadi milik kita.
“Bersegeralah mengambil kesempatan terbaik yang Yesus telah sediakan bagi kita.”
(Lukas 19:6)
Hidup ini penuh dengan kesempatan yang tak terhitung banyaknya. Cobalah renungkan kembali perjalanan hidup Saudara, telah banyak kesempatan yang datang dalam hidup kita. Cara kita menanggapi setiap kesempatan yang datang dalam hidup kita merupakan faktor penentu keberhasilan hidup kita.
Jika kita tidak pernah menanggapi kesempatan itu dengan baik, maka kesempatan itu dapat saja terbang melayang dan kita menerika kerugian besar dalam hidup kita. Hari ini, kita perlu mengikuti jejak dari Zakheus, seorang yang berpostur kecil namun tidak mau kehilangan kesempatan emas untuk bertemu langsung dengan Yesus.
Sekalipun ada tantangan yang muncul dari keberadaan postur tubuhnya yang pendek, tetapi Zakheus tidaklah putus asa. Ia tetap berupaya untuk dapat bertemu langsung dengan Tuhan. Entahkan kita seperti Zakheus, yang pada hari ini sedang dikuasai oleh ketakutan, kepahitan, tidak mau mengampuni, atau emosi-emosi negatif lainnya? Akankah anda membiarkan hal-hal tersebut menyebabkan anda kehilangan kesempatan untuk melihat dan mengalami Allah yang hidup dan sejati?
Ikutilah teladan Zakheus. Begitu mendengar, perkataan Tuhan Yesus dalam ayat 5 yang berseru... “Zakheus, segelah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu,” Iapun segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Keselamatan, pembaharuan dan pemulihan terjadi atas kehidupannya. Semua itu terjadi karena pilihannya untuk menangkap kesempatan yang dihadirkan dalam hidupnya.
Kiranya sepanjang hari ini kita akan tekun dalam segala usaha dan kerja keras kita untuk bertemu dengan Yesus. Ketika bertemu DIA, dengarlah suara-Nya yang merdu yang akan memimpin kita kepada kemenangan hidup yang lebih besar lagi. Bila kita melakukannya, maka upah mulia akan menjadi milik kita.
“Bersegeralah mengambil kesempatan terbaik yang Yesus telah sediakan bagi kita.”
Senin, Januari 12, 2009
TERUS BERKARYA
“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 12;11)
Paling susah memang mengurus orang yang sudah putus asa dan malas untuk melakukan apapun bagi Tuhan. Nasehat apa saja yang diberikan kepadanya selalu akan dibalas dengan berbagai macam dalih. Tujuannya adalah menutupi kemalasan di dalam hatinya. Pikirannya sibuk dengan berbagai dalih sehingga ia hanya terikat di tempat itu tanpa melakukan apa-apa.
Dalam pimpinan Roh Kudus, suatu sore saya untuk memanggil salah seorang mahasiswa skripsi di kampus sekolah Theologia di mana saya menjadi dosen. Melihat raut wajahnya dan sorot matanya, jelas terbersit putus asa dan kemalasan untuk hidup. Dalam konseling itulah semakin pasti saya menemukan bahwa mahasiswa ini sedang berada dalam titik jenuh dan tidak ada semangat hidup. Malas, bosan, kecewa....kata-kata itu yang sering keluar dari mulutnya.
Dalam keadaan semacam itu, saya sangat bergumul bagaimana caranya menolong dia. Puji Tuhan, sementara berbicara, saya menemukan penyebab utamanya adalah karena merasa terus gagal dan gagal dalam hidupnya. Setelah mendengar kisahnya, saya mulai memberikan kebenaran Firman Allah ini dan mengarahkannya untuk bangkit dari kemalasannya.
Jika Saudara adalah orang yang bergumul dengan kemalasan untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, hari ini Saudara bertemu dengan pesan yang cukup keras. Stop kemalasannya itu. Kerahkan kembali kekuatan Saudara dan mulai lagi bangkit untuk Tuhan. Jangan biarkan kerajinanmu kendor. Ijinkan Roh Kudus membaharui rohmu dan layanilah Tuhan.
Teruslah berkarya, jangan berhenti. Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan bahwa kita tidak akan pernah berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari. Karena itu jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.
“Teruslah berkarya...karena dalam Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Paling susah memang mengurus orang yang sudah putus asa dan malas untuk melakukan apapun bagi Tuhan. Nasehat apa saja yang diberikan kepadanya selalu akan dibalas dengan berbagai macam dalih. Tujuannya adalah menutupi kemalasan di dalam hatinya. Pikirannya sibuk dengan berbagai dalih sehingga ia hanya terikat di tempat itu tanpa melakukan apa-apa.
Dalam pimpinan Roh Kudus, suatu sore saya untuk memanggil salah seorang mahasiswa skripsi di kampus sekolah Theologia di mana saya menjadi dosen. Melihat raut wajahnya dan sorot matanya, jelas terbersit putus asa dan kemalasan untuk hidup. Dalam konseling itulah semakin pasti saya menemukan bahwa mahasiswa ini sedang berada dalam titik jenuh dan tidak ada semangat hidup. Malas, bosan, kecewa....kata-kata itu yang sering keluar dari mulutnya.
Dalam keadaan semacam itu, saya sangat bergumul bagaimana caranya menolong dia. Puji Tuhan, sementara berbicara, saya menemukan penyebab utamanya adalah karena merasa terus gagal dan gagal dalam hidupnya. Setelah mendengar kisahnya, saya mulai memberikan kebenaran Firman Allah ini dan mengarahkannya untuk bangkit dari kemalasannya.
Jika Saudara adalah orang yang bergumul dengan kemalasan untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, hari ini Saudara bertemu dengan pesan yang cukup keras. Stop kemalasannya itu. Kerahkan kembali kekuatan Saudara dan mulai lagi bangkit untuk Tuhan. Jangan biarkan kerajinanmu kendor. Ijinkan Roh Kudus membaharui rohmu dan layanilah Tuhan.
Teruslah berkarya, jangan berhenti. Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan bahwa kita tidak akan pernah berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari. Karena itu jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.
“Teruslah berkarya...karena dalam Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Sabtu, November 15, 2008
PELAYANAN ANAK: SUATU MANDAT ILAHI
Hari ini saya kembali merenungkan tanggung jawab pelayanan yang telah Tuhan YESUS berikan kepada saya dan kepada setiap pencinta pelayanan anak. Kita perlu menyadari secara seutuhnya bahwa PELAYANAN ANAK ADALAH SUATU MANDAT ILAHI. Bagaimanapun repot dan banyaknya tantangan dalam pelayanan ini, kita harus berfokus pada tugas yang Tuhan telah berikan untuk memperkenalkan KRISTUS sejak seorang pribadi masih sangat dini. Ingat bahwa 12 tahun pertama dalam kehidupan seorang anak merupakan masa yang penting dan menentukan secara rohani. YESUS sendiri menunjukkan kecintaan-Nya terhadap usaha memperkenalkan anak kepada diri-Nya. Baca kembali Injil Matius 19:13-15. Itulah sebabnya jangan berhenti untuk menjalankan suatu mandat Ilahi yang telah diteladani oleh YESUS. Berikanlah perhatianmu dalam pelayanan anak secara bertanggung jawab karena pelayanan ini adalah mandat Ilahi. Tuhan YESUS memberkati.
Sabtu, Oktober 25, 2008
KEADILAN DAN KASIH
Di suatu tempat dan waktu terdapat seorang kepala suku. Ia sangat dihormati bukan hanya karena keperkasaan fisiknya, namun juga hikmatnya dalam memimpin sukunya. Selama masa kepemimpinannya hukum benar-benar ditegakkan sehingga semua anggota suku merasa aman.
Suatu kali, terjadi pencurian sapi milik seorang anggota suku. Mendapat laporan itu, Kepala Suku mengumpulkan rakyatnya dan berkata bahwa siapapun yang melakukan pencurian itu akan dihukum cambuk 20 kali. Ia berharap agar ancaman tersebut dapat menghentikan pencurian tersebut. Tetapi, tiga hari kemudian, ada lagi warga yang lain yang mengadukan kehilangan ternak miliknya. Kepala Suku kecewa. Dan ia memberi tahu rakyatnya bahwa ia telah menaikan ancaman hukuman menjadi 50 kali hukuman cambuk. Sekali lagi, Kepala Suku berharap bahwa pencurian tersebut adalah yang terakhir. Ia salah. Dua hari setelah pemberitahuan kenaikan ancaman tersebut, masih ada warga yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Kepala Suku sudah bukan kecewa lagi, tetapi marah besar. Dan, ia menaikan ancaman hukuman menjadi 75 kali cambuk.
Seminggu setelah itu, terjadi keramaian di salah satu sudut wilayah sukunya. Orang berkerumun. Di tengah-tengah kerumunan itu seorang pemuda berusia 20-an tahun sedang tersungkur setelah dipukuli warga suku karena kedapatan sementara berusaha mencuri kambing warga suku. Mereka menginterogasi pemuda itu dan mendapati bahwa ia adalah orang yang sama yang telah melakukan pencurian yang meresahkan suku. Rakyat kemudian membawanya ke hadapan Kepala Suku. Dengan wajah tertunduk, pemuda itu berjalan ke rumah Kepala Suku hingga ia tiba di hadapan pemimpin suku tersebut. Kepala Suku mendekat untuk berusaha melihat wajah pemuda yang telah berlumuran darah tersebut. Betapa kagetnya ia, ternyata pemuda itu adalah anaknya sendiri. Kepala Suku menghadapi dilema. Haruskah ia selaku Kepala Suku menjalankan keadilan dengan melaksanakan ancaman hukuman cambuk 75 kali tersebut, ataukah ia sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya membatalkan pelaksanaan ancaman hukuman tersebut. Ia menyadari bahwa kedua perannya tersebut bukan harus dipertentangan, tetapi harus diharmoniskan. Ia adalah seorang yang berhikmat.
Kepala Suku bertitah bahwa hukuman harus dilaksanakan. Hukum harus diberlakukan tanpa pandang bulu. Warganya, walaupun sangat terharu, makin kagum dengan kepemimpinan pemimpin mereka. Keesokan harinya, sang pemuda dengan punggung telanjang telah diikat di suatu tiang di tengah lapangan terbuka, dengan seorang algojo berbadan besar yang memegang cambuk. Ia hari itu bertugas mencambuk punggung pemuda tersebut 75 kali.
Dari atas tempat duduknya di panggung, Kepala Suku dengan sangat pedih hati, memerintahkan agar hukuman dipersiapkan. Aba-aba terakhir akan diberikan oleh Kepala Suku sendiri. Algojo mengambil tempat di dekat pemuda, dan mempersiapkan cambuknya. Ketika ia mengangkat tanggannya pada posisi tertinggi dan menanti komando dari Kepala Suku, ia bukan mendengar komando untuk mencambuk, tetapi "Tunggu...!", teriak sang Kepala Suku.
Dan, Kepala Suku bergegas turun mendekati anaknya. Setiba di hadapan sang algojo, Kepala Suku membuka baju kebesarannya, dan makin mendekati anaknya. Warganya terkejut ketika Kepala Suku tiba-tiba memeluk anaknya yang terikat di batang pohon dan menempelkan seluruh dadanya di punggung anaknya sehingga seluruh tubuh Kepala Suku yang besar itu menutupi seluruh tubuh sang pemuda.
Kepala Suku kemudian memberikan komando eksekusinya. Setiap kali cambukan menghantam tubuh Kepala Suku, ia berkata kepada anaknya "Ayah mengasihimu, anakku...!". Saat itulah keadilan dan kasih menjadi suatu keharmonisan dalam waktu dan tempat yang sama.
Keharmonisan yang lebih besar lagi, yakni antara Keadilan dan Kasih ALLAH telah terjelma di kayu salib Yesus yang mati bagi kita. Adakah kita kini masih tega menyalibkan Kristus lagi dengan dosa-dosa kita?
Suatu kali, terjadi pencurian sapi milik seorang anggota suku. Mendapat laporan itu, Kepala Suku mengumpulkan rakyatnya dan berkata bahwa siapapun yang melakukan pencurian itu akan dihukum cambuk 20 kali. Ia berharap agar ancaman tersebut dapat menghentikan pencurian tersebut. Tetapi, tiga hari kemudian, ada lagi warga yang lain yang mengadukan kehilangan ternak miliknya. Kepala Suku kecewa. Dan ia memberi tahu rakyatnya bahwa ia telah menaikan ancaman hukuman menjadi 50 kali hukuman cambuk. Sekali lagi, Kepala Suku berharap bahwa pencurian tersebut adalah yang terakhir. Ia salah. Dua hari setelah pemberitahuan kenaikan ancaman tersebut, masih ada warga yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Kepala Suku sudah bukan kecewa lagi, tetapi marah besar. Dan, ia menaikan ancaman hukuman menjadi 75 kali cambuk.
Seminggu setelah itu, terjadi keramaian di salah satu sudut wilayah sukunya. Orang berkerumun. Di tengah-tengah kerumunan itu seorang pemuda berusia 20-an tahun sedang tersungkur setelah dipukuli warga suku karena kedapatan sementara berusaha mencuri kambing warga suku. Mereka menginterogasi pemuda itu dan mendapati bahwa ia adalah orang yang sama yang telah melakukan pencurian yang meresahkan suku. Rakyat kemudian membawanya ke hadapan Kepala Suku. Dengan wajah tertunduk, pemuda itu berjalan ke rumah Kepala Suku hingga ia tiba di hadapan pemimpin suku tersebut. Kepala Suku mendekat untuk berusaha melihat wajah pemuda yang telah berlumuran darah tersebut. Betapa kagetnya ia, ternyata pemuda itu adalah anaknya sendiri. Kepala Suku menghadapi dilema. Haruskah ia selaku Kepala Suku menjalankan keadilan dengan melaksanakan ancaman hukuman cambuk 75 kali tersebut, ataukah ia sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya membatalkan pelaksanaan ancaman hukuman tersebut. Ia menyadari bahwa kedua perannya tersebut bukan harus dipertentangan, tetapi harus diharmoniskan. Ia adalah seorang yang berhikmat.
Kepala Suku bertitah bahwa hukuman harus dilaksanakan. Hukum harus diberlakukan tanpa pandang bulu. Warganya, walaupun sangat terharu, makin kagum dengan kepemimpinan pemimpin mereka. Keesokan harinya, sang pemuda dengan punggung telanjang telah diikat di suatu tiang di tengah lapangan terbuka, dengan seorang algojo berbadan besar yang memegang cambuk. Ia hari itu bertugas mencambuk punggung pemuda tersebut 75 kali.
Dari atas tempat duduknya di panggung, Kepala Suku dengan sangat pedih hati, memerintahkan agar hukuman dipersiapkan. Aba-aba terakhir akan diberikan oleh Kepala Suku sendiri. Algojo mengambil tempat di dekat pemuda, dan mempersiapkan cambuknya. Ketika ia mengangkat tanggannya pada posisi tertinggi dan menanti komando dari Kepala Suku, ia bukan mendengar komando untuk mencambuk, tetapi "Tunggu...!", teriak sang Kepala Suku.
Dan, Kepala Suku bergegas turun mendekati anaknya. Setiba di hadapan sang algojo, Kepala Suku membuka baju kebesarannya, dan makin mendekati anaknya. Warganya terkejut ketika Kepala Suku tiba-tiba memeluk anaknya yang terikat di batang pohon dan menempelkan seluruh dadanya di punggung anaknya sehingga seluruh tubuh Kepala Suku yang besar itu menutupi seluruh tubuh sang pemuda.
Kepala Suku kemudian memberikan komando eksekusinya. Setiap kali cambukan menghantam tubuh Kepala Suku, ia berkata kepada anaknya "Ayah mengasihimu, anakku...!". Saat itulah keadilan dan kasih menjadi suatu keharmonisan dalam waktu dan tempat yang sama.
Keharmonisan yang lebih besar lagi, yakni antara Keadilan dan Kasih ALLAH telah terjelma di kayu salib Yesus yang mati bagi kita. Adakah kita kini masih tega menyalibkan Kristus lagi dengan dosa-dosa kita?
Langgan:
Entri (Atom)



