Jumat, Oktober 17, 2008
DAPATKAH DUA ORANG BERJALAN BERSAMA?
Tetapi yang aneh, pemilik kedua sapi jantan tersebut malah memberikan semangat atau dorongan kepada sapi-sapi itu agar terus bertarung sampai ada yang kalah. Mula-mula yang satu didera lalu yang lainnya jika kelihatannya sapi-sapi jantan itu hendak berhenti bertarung. Deraan tersebut nampaknya dilakukan terus agar kedua sapi jantan itu marah dan bertarung terus, menyodorkan tontonan gratis.
Saya terheran-heran, maka saya pun bertanya, "Mengapa sapi-sapi itu tidak dihentikan agar tidak berkelahi terus? Mengapa kedua sapi itu malah dihasut terus agar berkelahi dengan sengit?"
"Apa!?" jawab si pemilik kedua sapi itu, "Saya baru saja membeli kedua sapi jantan itu dan saya tidak bisa menggunakannya sebagai satutim untuk menarik gerobak-gerobak ini, sebab mereka berkelahi terus. Karena itu keduanya harus bertarung dulu untuk menentukan yang mana dari keduanya yang akan menjadi bos. Salah satu dari sapi jantan ini pasti akan menyerah sehingga yang satunya menang, sekali untuk selamanya. Maka saya pun akan bisa menggunakan mereka untuk menarik gerobak-gerobak saya ini. Jika saya mengikat mereka sebagai pasangan untuk menarik gerobak ini sebelum keduanya berkelahi memperebutan posisi sebagai bos, maka yang satu akan menarik gerobak ini ke timur sedangkan yang satunya bisa menariknya ke barat, lalu akan berputar-putar terus laksana perputaran jarum jam."
"Ketaatan diperlukan bila hendak maju secara rohani"
Minggu, September 28, 2008
BUAH KESABARAN

Sebab kamu memerlukan ketekunan,supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah,
kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.(Ibrani 10:36)
Catatan sejarah dunia telah mencantumkan sejumlah besar nama penting yang menoreh keberhasilan karena bersedia tekun/sabar. Sebut saja Beethoven. Setiap karya musikalnya harus ditulis sekurang-kurangnya dua belas kali. Josef Haydn membuat lebih dari delapan ratus komposisi musik sebelum menghasilkan The Creation yang menjadikan sangat terkenal.
Jauh sebelum buah dari kesabaran atau ketekunan ini dialami oleh para tokoh dunia ini, firman Tuhan sudah memberikan petunjuk. Seyogianya seseorang memerlukan ketekunan. Jika kita bertekun dan setia dalam melaksanakan hal apapun yang Tuhan percayakan bagi kita, hasil akan kita peroleh.
Penulis Ibrani menyadari bahwa hal putus asa dan kecewa sedang menghantui perjalanan rohani para penerimanya. Sama halnya dengan kita dewasa ini. Bila sedang putus asa atau kecewa dengan keadaan hidup kita dalam mengikut Tuhan, bacalah kembali ayat ini sekuat-kuatnya. Kita memang perlu lebih tekun lagi dan sabar.
Tujuannya agar kita dapat bertahan dan akan memperoleh hasil yang Tuhan janjikan kepada kita. Ingatlah bahwa selama kita masih hidup, perjalanan dan tanggung jawab kita belum usai. Majulah terus di dalam kekuatan kuasa Tuhan. Pada akhirnya kita akan menerima upah bila bertemu dengan kekasih jiwa kita, Yesus Kristus.
“Anda tidak akan menikmati buah kesabaran bila tidak memanfaatnya!!”
Jumat, September 19, 2008
Terapi untuk Tukang Kritik
Yesus Tuhan dan juruselamat kita sangat adil dalam memberikan hukum-hukum rohani untuk hidup bersama. Lihat saja pernyataan Matius 7:3 di atas. Di dalamnya tertera suatu pesan penting yaitu apapun yang tidak kita sukai dari orang lain, itu juga yang harus kita koreksi dari diri kita sendiri. Jika tidak, maka kita sudah bersikap tidak adil.
Siang itu, seorang wanita yang sering mengeluarkan kata-kata sindiran kepada orang lain kena ‘batunya’. Seorang rekan kerjanya dengan keras melontarkan kata-kata terguran atas suatu kesalahan yang telah dibuatnya. Karena posisinya lebih rendah, iapun diam saja. Ketika kembali ke ruangnya, iapun terdiam.
Dalam kekesalan hatinya, terdengar bisikan suara hati, “diamlah dan pikirkan dirimu.” Karena binggung dengan maksud suara itu, ia berusaha tenangkan pikirannya dan mulai bekerja. Sisa waktu kerjanya dipakai untuk diam dan pikirkan dirinya. Luar biasa hasilnya, kejadian itu menjadi kesempatan untuk koreksi diri.
Kesadaranpun muncul. Ia tidak akan menjadi seorang tukang kritik karena apa yang dialaminya sangat menyakitkan.
Benarlah perkataan Tuhan, jika kita ingin menjadi seorang yang ingin menjadi pengkritik, tolong periksa dulu, apakah kita telah benar dalam hal yang hendak kita kritik dari orang lain. Ini terapi yang paling ampuh untuk tukang kritik.
“Sebelum mengkritik, tolong periksa dulu dirimu dan pastikan Anda tidaklah demikian.!!”
Rabu, September 17, 2008
BERCERMIN PADA ALLAH YANG SEMPURNA
Di Jawa Timur terdapat sebuah tempat hiburan dan tempat belajar yang bernama JATIM PARK. Salah satu bagian yang ramai dikunjungi para pengunjung, khususnya pengunjung wanita adalah ‘cermin-cermin ajaib.’ Dikatakan ‘ajaib’ karena cermin-cermin itu bisa membuat orang yang gemuk, terlihat langsing atau yang kurus terlihat gemuk. Terserah kepada para pengunjung untuk memilih cermin mana yang mereka sukai.
Gambar bentuk tubuh yang terlihat pada cermin-cermin itu bukanlah gambar yang sesungguhnya. Bukan pula karena cermin-cermin itu memang ajaib. Yang sebenarnya terjadi ialah cermin-cermin itu dirancang dengan maksud memanipulasi keadaan yang sesungguhnya. Dengan demikian, bentuk tubuh yang dikehendaki sangat bergantung pada kaca cermin penilai itu.
Kondisi yang terpancar dari cermin-cermin yang sepertinya ajaib itu mengingatkan saya kepada dasar pertimbangan bagi penilaian diri kita. Kalau dalam hidup kita hanya semata-mata bercermin pada penilaian orang lain, maka kita akan kewalahan dan frustasi. Bagaimanapun, penilaian manusia itu relatif. Penilaian orang berbeda-beda terhadap kita. Sering kali penilaian itu bersifat ‘manupulatif’ atau menipu.
Puji Tuhan, karena pada hari ini, Tuhan memberikan dasar untuk bercermin yang sebenarnya. Kita semua harus bercermin pada Allah kita yang sempurna. Allah yang kita percayai di dalam Yesus, tidak pernah salah dan apapun yang DIA katakan tentang kita merupakan perkataan yang sesungguhnya. Yesus tidak pernah berbohong tentang keadaan kita. DIA Allah kita yang sempurna.
Itulah sebabnya ketika kita bercermin kepada Allah yang mahasempurna maka kita juga akan melihat diri kita yang sebenarnya. Kita akan tampil sebagai orang-orang yang originil dan bukannya hidup di dalam dunia ‘angan-angan’ saja. Kita akan terus menerus berupaya untuk berlaku seperti Allah kita yang sempurna itu. Oleh firman-Nya yang mahakuasa, kita akan diubahkan dari sehari demi sehari, hingga menjadi sama seperti DIA yang adalah sempurna.
“Orang yang bercermin dari BAPA sorgawi yang sempurna,
akan terus mengejar kesempurnaan dalam hidupnya. ”
Selasa, September 09, 2008
QUA VADIS: KEMANA KAMU MAU PERGI?
Mengikut Yesus dan melayani-Nya tidaklah mudah. Penyangkalan diri dan ketaatan menjadi tuntutan mutlak. Tantangan karena nama Tuhan menjadi bagian di dalamnya. Yesus telah bersabda, setiap orang yang hendak mengikut –Nya memang harus memikul salib. Kebenaran ini terbukti dalam kehidupan para rasul yang bergiat dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus. Seperti rasul Petrus, sang pemimpin gereja mula-mula. Ketika melaksanakan perintah Tuhan untuk mewartakan Injil ke Roma, rasul Petrus pernah mengalami masa-masa tersulit dalam pengiringan dan pelayanannya kepada Tuhan Yesus. Tekanan dalam pelayanannya sangat berat. Ia bersiap-siap untuk meninggalkan kota Roma.
Segera Petrus mempersiapkan semua perbekalannya dan meninggalkan kota Roma. Sementara berjalan itulah dia bertemu dengan seorang berjubah putih yang berjalan berlawan arah. Orang itu bertanya kepada Petrus, “QUA VADIS?” (bhs LATIN: Kemana kamu mau pergi?). Jawab Petrus, “meninggalkan Roma.” Orang itu menjawab, “Saya tetap akan ke Roma, apapun yang terjadi.” Petrus menyadari ini berasal dari Tuhan. Kenyataannya memang Yesuslah yang berjumpa dengannya. Pertanyaan Yesus ini berhasil menyadarkan rasul Petrus. Dia Diapun berbalik ke Roma dan menjadi martir bagi Yesus seperti yang telah dinubuatkan sebelumnya.
Mungkin hari ini kita seperti Simon Petrus, murid Yesus yang sedang putus asa dan bergegas untuk meninggalkan panggilan dan pelayanannya. Sebelum bertindak lebih lanjut, cobalah untuk dengar pertanyaan Yesus, “QUA VADIS?” Saran firman Allah, jangan putus asa tapi belajarlah dari Yesus. DIA telah menanggung seluruh tantangan yang berat untuk menyelesaikan tugas-Nya bagi kita. Sudah selayaknya kita juga bertahan hidup bagi DIA dan bukannya menjadi lemah dan putus asa. Ingatlah Tuhan Yesus beserta kita, jangan pernah menyerah, tetap bersemangat dan berjuang hingga akhirnya.
“Bila keputusasaan melanda hidupmu, segera ingat tindakan Yesus: DIA tetap bertahan dan menang. Kita juga haruslah demikian”
Jumat, September 05, 2008
SENJATA YANG MEMATIKAN
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. (Amsal 24:10)
Bila kesesakan telah menimpa hati seseorang, bentuk ekspresinya dapat saja terungkap dalam berbagai macam cara. Jika seseorang dapat mengendalikannya, ekpresi itu mungkin saja tidak terlihat oleh orang lain. Namun bagaimanapun menyembunyikan akan terbaca oleh orang di sekitarnya.
Amsal 24:10 memberitahu suatu pertalian yang harus dihindari ketika kesesakan menimpa hidup seseorang. Sebuah pantangan dalam menghadapi kesesakan ialah jangan menjadi ‘kecut hati’ atau berkecil hati. Ini akan menjadi senjata yang mematikan.
Larangan ini bertujuan menjaga daya juang kita. Ketika seseorang berkecil hati, daya juangnyapun berkurang. Bila daya juang berkurang, kemampuan untuk mengatasi kesesakanpun mengecil. Dengan demikian, pastikan hati kita tetap penuh semangat dalam Tuhan sekalipun kesesakan hidup terus melanda.
“Bentengi hati kita dengan semangat juang dalam Tuhan, kesesakan pun dapat diatasi.”
Rabu, Agustus 27, 2008
MENGUCAP SYUKUR TANPA BATAS
Kehidupan tidak selalu memberikan yang kita harapkan, karena itu daripada kita bersunggut untuk duri di sekeliling mawar, lebih baik nikmati keindahan mawar yang dikelilingi duri. Marilah kita penuhi hidup kita dengan ucapan syukur senantiasa. ‘Ucapan Syukur’ merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Seperti halnya mengampuni adalah tanpa batas, maka mengucap syukur juga seharusnya tanpa batas. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Artinya dalam keadaan apapun kita harus bersyukur. Ketika kita bersyukur dalam keadaan yang tidak menyenangkan maka sebenarnya kita seolah-olah sedang menyatakan tanda persetujuan kita atas apapun yang untuknya Tuhan sedang proses dalam hidup kita.
Di dalam keadaan paling tidak menyenangkan sekalipun sebenarnya kita masih punya banyak alasan untuk bersyukur. Sebagai contoh, kita bisa bersyukur untuk jalannya jantung kita secara normal. Jantung merupakan organ yang paling penting yang terletak di pertengahan dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Walaupun beratnya sekitar 200-300 gram saja, tetapi jantung bisa berkontraksi terus-menerus tanpa berhenti sedikitpun. Dengan sekali kontraksi sekitar 70 ml darah dikeluarkan. Jumlah kontraksi jantung kira-kira 70 denyutan permenit yang mengalirkan darah 5 liter dari jantung ke seluruh tubuh.
Dengan memperhatikan segala perbuatan Tuhan yang besar bagi kehidupan kita, maka sudah sepantasnya kita menjadi orang-orang yang tahu bersyukur. Salah satu bagian dari lagu rohani yang lama memberitahu kita untuk menghitung-hitung berkat Tuhan. Dengan melakukannya kita akan heran betapa hebatnya pertolongan Tuhan bagi kita. Jadi, tunggu apa lagi, mulailah jalani hari ini dengan penuh pengucapan syukur.
“Ucapan syukur dalam segala keadaan adalah tanda persetujuan kita atas semua yang Tuhan lakukan bagi hidup kita itu baik.”
Jumat, Agustus 15, 2008
Mengikuti Pertandingan dengan Selayaknya
Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. (I Tim. 6:12)
Seorang wanita tua rentah didapati ikut menonton siaran langsung final kejuaraan sepak bola dunia 2006, di sebuah kampung. Ketika ditanyakan alasannya untuk menonton, iapun menjawab, ‘karena ini adalah pertandingan dengan para pemain yang handal dan pertandingannya seru, karena itu layak ditontonnya.”
Memang benar, suatu pertandingan yang patut untuk ditonton adalah pertandingan yang diolah sedemikian rupa. Demikian halnya dengan kehidupan rohani kita. Seringkali kita lupa bahwa hidup kita merupakan sebuah pertandingan iman. Suatu pertandingan yang wajib kita selesaikan dengan tepat.
Kepada Timotius yang muda, rasul Paulus menyarankan untuk melakukan pertandingan iman dengan cara yang patut atau layak. Banyak cara ‘instant’ dan ‘tidak halal’ yang sering kita tempuh untuk mencapai tahap pertumbuhan rohani, namun mulailah pertimbangan firman Tuhan ini. Tuhan selalu ingin kita mencapai tahap pertumbuhan secara layak/patut.
Masuklah dalam pertandingan ini secara sehat. Ingat, promosi datangnya dari Tuhan. Sementara bertumbuh, tetaplah membuka diri kepada setiap kesempatan baru, jangan pernah berhenti hanya pada satu tahap pertumbuhan rohani saja. Teruslah kembangkan diri. Ini akan menjadikan diri kita, seorang pemain rohani dalam pertandingan yang patut ditonton.
Minggu, Juli 13, 2008
PURPOSE DRIVEN LIFE
having cancer and him having 'wealth' from the book sales. This is an
absolutely incredible short interview with Rick Warren, 'Purpose Driven
Life' author and pastor of Saddleback Church in California
In the interview by Paul Bradshaw with Rick Warren, Rick said:
People ask me, What is the purpose of life? And I respond: In a nutshell,
life is preparation for eternity. We were not made to last forever, and God
wants us to be with Him in Heaven.
One day my heart is going to stop, and that will be the end of my body-- but
not the end of me.
I may live 60 to 100 years on earth, but I am going to spend trillions of
years in eternity. This is the warm-up act - the dress rehearsal. God wants
us to practice on earth what we will do forever in eternity.
We were made by God and for God, and until you figure that out, life isn't
going to make sense.
Life is a series of problems: Either you are in one now, you're just coming
out of one, or you're getting ready to go into another one.
The reason for this is that God is more interested in your character than
your comfort.
God is more interested in making your life holy than He is in making your
life happy.
We can be reasonably happy here on earth, but that's not the goal of life.
The goal is to grow in character, in Christ likeness.
This past year has been the greatest year of my life but also the toughest,
with my wife, Kay, getting cancer.
I used to think that life was hills and valleys - you go through a dark
time, then you go to the mountaintop, back and forth. I don't believe that
anymore.
Rather than life being hills and valleys, I believe that it's kind of like
two rails on a railroad track, and at all times you have something good and
something bad in your life.
No matter how good things are in your life, there is always something bad
that needs to be worked on.
And no matter how bad things are in your life, there is always something
good you can thank God for.
You can focus on your purposes, or you can focus on your problems.
If you focus on your problems, you're going into self-centeredness,'which is
my problem, my issues, my pain.' But one of the easiest ways to get rid of
pain is to get your focus off yourself and onto God and others.
We discovered quickly that in spite of the prayers of hundreds of thousands
of people, God was not going to heal Kay or make it easy for her.
It has been very difficult for her, and yet God has strengthened her
character, given her a ministry of helping other people, given her a
testimony, drawn her closer to Him and to people.
You have to learn to deal with both the good and the bad of life.
Actually, sometimes learning to deal with the good is harder. For instance,
this past year, all of a sudden, when the book sold 15 million copies, it
made me instantly very wealthy.
It also brought a lot of notoriety that I had never had to deal with before.
I don't think God gives you money or notoriety for your own ego or for you
to live a life of ease.
So I began to ask God what He wanted me to do with this money, notoriety and
influence. He gave me two different passages that helped me decide what to
do, II Corinthians 9 and Psalm 72
First, in spite of all the money coming in, we would not change our
lifestyle one bit. We made no major purchases.
Second, about midway through last year, I stopped taking a salary from the
church.
Third, we set up foundations to fund an initiative we call The Peace Plan to
plant churches, equip leaders, assist the poor, care for the sick, and
educate the next generation.
Fourth, I added up all that the church had paid me in the 24 years since I
started the church, and I gave it all back. It was liberating to be able to
serve God for free.
We need to ask ourselves: Am I going to live for possessions? Popularity?
Am I going to be driven by pressures? Guilt? Bitterness? Materialism? Or am
I going to be driven by God's purposes (for my life)?
When I get up in the morning, I sit on the side of my bed and say, God, if I
don't get anything else done today, I want to know You more and love You
better. God didn't put me on earth just to fulfill a to-do list. He's more
interested in what I am than what I do.
That's why we're called human beings, not human doings.
Happy moments, PRAISE GOD.
Difficult moments, SEEK GOD.
Quiet moments, WORSHIP GOD.
Painful moments, TRUST GOD.
Every moment, THANK GOD.
