Jumat, Agustus 14, 2009
TUHAN TIDAK PERNAH INGKAR JANJI
dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang difirmankan-Nya.” (Kejadian 21:1)
Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi ketika menunggu janji dari seseorang berupa ‘hadiah’ atau ‘barang’ yang kita sendiri sangat mengharapkannya. Saat menanti itu, perasaan kita akan bergejolak sedemikian rupa. Sara dan Abraham mengalami hal yang sama. Suami istri ini sedang menantikan janji Allah untuk memberikan anak kepada keduanya.
Nampaknya mustahil bagi mereka untuk mendapatkan anak. Penantian mereka cukup lama hingga Abraham berumur seratus tahun dan Sara istrinya sembilan puluh tahun. Berbeda dengan manusia, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Apapun yang dijanjikan-Nya pasti akan digenapi. Sarapun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya.
Bayangkanlah seorang nenek yang sudah tua rentah mengandung seorang bayi. Sungguh, hal ini akan menjadi pemandangan yang sangat menarik sekali di jaman modern ini. Apalagi di sisinya ada seorang kakek dengan senyum yang lebar sambil menjelaskan bahwa bayi itu adalah hasil perkawinan mereka. Sepertinya ini hanya terjadi dalam dongeng anak-anak. Dalam kenyataannya, sulit untuk mempercayai kejadian seaneh ini.
Memang menurut ukuran pikiran manusia, orang setua Abraham dan Sara tidaklah mungkin mendapatkan keturunan. Jangankan kita, Sara sendiri ketika Tuhan memberitahukan berita bahagia ini, iapun tertawa. Makanya tidak heran, Abraham memberikan nama Isak (artinya tertawa) kepada anak yang dilahirkan kepadanya dalam usia tua. Pemberian nama Isak itu bermaksud agar setiap orang tidak lagi menertawakan kesanggupan Tuhan untuk memenuhi janji-Nya.
Abraham dan Sara memberikan pelajaran penting bagi kita. Pelajarannya adalah bahwa sekalipun nampaknya Tuhan seperti berlambat dalam memenuhi janji-Nya, sebenarnya tidaklah demikian. Oleh karena itu, jangan pernah meragukan kemahakuasaan Tuhan dalam memenuhi janji-janji-Nya dalam hidup kita. Percayalah kepada Tuhan karena Tuhan tidak pernah ingkar janji.
“Tuhan setia pada janji-Nya. Dialah Allah yang tidak pernah ingkar janji.”
Kamis, Februari 19, 2009
SENJATA YANG MEMATIKAN
Kesesakan dapat terjadi karena berbagai macam alasan. Kesesakan dapat saja terjadi karena kecewa terhadap seseorang atau situasi tertentu. Marah terhadap ketidakmampuan diri sendiri juga mampu menimbulkan kesesakan dalam hati.
Bila kesesakan telah menimpa hati seseorang, bentuk ekspresinya dapat saja terungkap dalam berbagai macam cara. Jika seseorang dapat mengendalikannya, ekpresi itu mungkin saja tidak terlihat oleh orang lain. Namun bagaimanapun menyembunyikan akan terbaca oleh orang di sekitarnya.
Amsal 24:10 memberitahu suatu pertalian yang harus dihindari ketika kesesakan menimpa hidup seseorang. Sebuah pantangan dalam menghadapi kesesakan ialah jangan menjadi ‘kecut hati’ atau berkecil hati. Ini akan menjadi senjata yang mematikan.
Larangan ini bertujuan menjaga daya juang kita. Ketika seseorang berkecil hati, daya juangnyapun berkurang. Bila daya juang berkurang, kemampuan untuk mengatasi kesesakanpun mengecil. Dengan demikian, pastikan hati kita tetap penuh semangat dalam Tuhan sekalipun kesesakan hidup terus melanda.
“Bentengi hati kita dengan semangat juang dalam Tuhan, kesesakan pun dapat diatasi.”
Kamis, Januari 29, 2009
SILAHKAN MEMBENCI YANG BERIKUT INI


Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat dan mulut penuh tipu muslihat Amsal 8:13)
Kata benci berarti merasa sangat tidak suka kepada sesuatu, seseorang atau keadaan. Kebencian itu bukanlah sama sekali tidak perlu di dalam hidup kita, namun arah/sasarannya harus benar. Sebagai seorang anak Tuhan, sasaran kebencian kita bukanlah kepada manusia di sekitar kita, atau keadaan melainkan kepada tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kebenaran firman Allah.
Pemikiran semacam ini tertuang dalam Amsal 8:13 yang menerangkan mengenai pengertian atau definisi yang benar dari hal takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan mengharuskan seorang anak Tuhan untuk mengarahkan kebenciannya pada sasaran yang tepat. Sasarannya adalah membenci (merasa tidak suka) atau menolak kejahatan.
Berikut ini adalah beberapa kategori kejahatan yang perlu kita benci: bencilah kesombongan dan kecongkakan. Tes untuk mengetahui hal ini mudah sekali. Jika kita menaruh penghargaan yang berlebihan terhadap diri sendiri dan cenderung merendahkan orang lain, kita terbukti masih sombong dan congkak. Kita benci kesombongan dan kecongkakan bila kita melihat diri kita sebagai mana mestinya dan menghargai orang lain.
Selain itu, berkompromi dengan kesalahan dan bertindak secara tidak adil kepada hak-hak orang lain harus kita benci. Karena hal ini merupakan tingkah laku yang mengarah kepada kejahatan. Ketika menjaga diri dalam takut akan Tuhan, kita juga perlu menjaga kemurnian perkataan/ucapan kita. Inilah cara kita membenci mulut penuh tipu muslihat.
“Membenci perkara-perkara kejahatan adalah pengertian yang tepat dari hal takut akan Tuhan”
Rabu, Januari 28, 2009
SEGERA AMBIL KESEMPATAN TERBAIK ITU
(Lukas 19:6)
Hidup ini penuh dengan kesempatan yang tak terhitung banyaknya. Cobalah renungkan kembali perjalanan hidup Saudara, telah banyak kesempatan yang datang dalam hidup kita. Cara kita menanggapi setiap kesempatan yang datang dalam hidup kita merupakan faktor penentu keberhasilan hidup kita.
Jika kita tidak pernah menanggapi kesempatan itu dengan baik, maka kesempatan itu dapat saja terbang melayang dan kita menerika kerugian besar dalam hidup kita. Hari ini, kita perlu mengikuti jejak dari Zakheus, seorang yang berpostur kecil namun tidak mau kehilangan kesempatan emas untuk bertemu langsung dengan Yesus.
Sekalipun ada tantangan yang muncul dari keberadaan postur tubuhnya yang pendek, tetapi Zakheus tidaklah putus asa. Ia tetap berupaya untuk dapat bertemu langsung dengan Tuhan. Entahkan kita seperti Zakheus, yang pada hari ini sedang dikuasai oleh ketakutan, kepahitan, tidak mau mengampuni, atau emosi-emosi negatif lainnya? Akankah anda membiarkan hal-hal tersebut menyebabkan anda kehilangan kesempatan untuk melihat dan mengalami Allah yang hidup dan sejati?
Ikutilah teladan Zakheus. Begitu mendengar, perkataan Tuhan Yesus dalam ayat 5 yang berseru... “Zakheus, segelah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu,” Iapun segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Keselamatan, pembaharuan dan pemulihan terjadi atas kehidupannya. Semua itu terjadi karena pilihannya untuk menangkap kesempatan yang dihadirkan dalam hidupnya.
Kiranya sepanjang hari ini kita akan tekun dalam segala usaha dan kerja keras kita untuk bertemu dengan Yesus. Ketika bertemu DIA, dengarlah suara-Nya yang merdu yang akan memimpin kita kepada kemenangan hidup yang lebih besar lagi. Bila kita melakukannya, maka upah mulia akan menjadi milik kita.
“Bersegeralah mengambil kesempatan terbaik yang Yesus telah sediakan bagi kita.”
Sabtu, November 15, 2008
PELAYANAN ANAK: SUATU MANDAT ILAHI
Sabtu, Oktober 25, 2008
KEADILAN DAN KASIH
Suatu kali, terjadi pencurian sapi milik seorang anggota suku. Mendapat laporan itu, Kepala Suku mengumpulkan rakyatnya dan berkata bahwa siapapun yang melakukan pencurian itu akan dihukum cambuk 20 kali. Ia berharap agar ancaman tersebut dapat menghentikan pencurian tersebut. Tetapi, tiga hari kemudian, ada lagi warga yang lain yang mengadukan kehilangan ternak miliknya. Kepala Suku kecewa. Dan ia memberi tahu rakyatnya bahwa ia telah menaikan ancaman hukuman menjadi 50 kali hukuman cambuk. Sekali lagi, Kepala Suku berharap bahwa pencurian tersebut adalah yang terakhir. Ia salah. Dua hari setelah pemberitahuan kenaikan ancaman tersebut, masih ada warga yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Kepala Suku sudah bukan kecewa lagi, tetapi marah besar. Dan, ia menaikan ancaman hukuman menjadi 75 kali cambuk.
Seminggu setelah itu, terjadi keramaian di salah satu sudut wilayah sukunya. Orang berkerumun. Di tengah-tengah kerumunan itu seorang pemuda berusia 20-an tahun sedang tersungkur setelah dipukuli warga suku karena kedapatan sementara berusaha mencuri kambing warga suku. Mereka menginterogasi pemuda itu dan mendapati bahwa ia adalah orang yang sama yang telah melakukan pencurian yang meresahkan suku. Rakyat kemudian membawanya ke hadapan Kepala Suku. Dengan wajah tertunduk, pemuda itu berjalan ke rumah Kepala Suku hingga ia tiba di hadapan pemimpin suku tersebut. Kepala Suku mendekat untuk berusaha melihat wajah pemuda yang telah berlumuran darah tersebut. Betapa kagetnya ia, ternyata pemuda itu adalah anaknya sendiri. Kepala Suku menghadapi dilema. Haruskah ia selaku Kepala Suku menjalankan keadilan dengan melaksanakan ancaman hukuman cambuk 75 kali tersebut, ataukah ia sebagai seorang ayah yang mengasihi anaknya membatalkan pelaksanaan ancaman hukuman tersebut. Ia menyadari bahwa kedua perannya tersebut bukan harus dipertentangan, tetapi harus diharmoniskan. Ia adalah seorang yang berhikmat.
Kepala Suku bertitah bahwa hukuman harus dilaksanakan. Hukum harus diberlakukan tanpa pandang bulu. Warganya, walaupun sangat terharu, makin kagum dengan kepemimpinan pemimpin mereka. Keesokan harinya, sang pemuda dengan punggung telanjang telah diikat di suatu tiang di tengah lapangan terbuka, dengan seorang algojo berbadan besar yang memegang cambuk. Ia hari itu bertugas mencambuk punggung pemuda tersebut 75 kali.
Dari atas tempat duduknya di panggung, Kepala Suku dengan sangat pedih hati, memerintahkan agar hukuman dipersiapkan. Aba-aba terakhir akan diberikan oleh Kepala Suku sendiri. Algojo mengambil tempat di dekat pemuda, dan mempersiapkan cambuknya. Ketika ia mengangkat tanggannya pada posisi tertinggi dan menanti komando dari Kepala Suku, ia bukan mendengar komando untuk mencambuk, tetapi "Tunggu...!", teriak sang Kepala Suku.
Dan, Kepala Suku bergegas turun mendekati anaknya. Setiba di hadapan sang algojo, Kepala Suku membuka baju kebesarannya, dan makin mendekati anaknya. Warganya terkejut ketika Kepala Suku tiba-tiba memeluk anaknya yang terikat di batang pohon dan menempelkan seluruh dadanya di punggung anaknya sehingga seluruh tubuh Kepala Suku yang besar itu menutupi seluruh tubuh sang pemuda.
Kepala Suku kemudian memberikan komando eksekusinya. Setiap kali cambukan menghantam tubuh Kepala Suku, ia berkata kepada anaknya "Ayah mengasihimu, anakku...!". Saat itulah keadilan dan kasih menjadi suatu keharmonisan dalam waktu dan tempat yang sama.
Keharmonisan yang lebih besar lagi, yakni antara Keadilan dan Kasih ALLAH telah terjelma di kayu salib Yesus yang mati bagi kita. Adakah kita kini masih tega menyalibkan Kristus lagi dengan dosa-dosa kita?
Rabu, Oktober 22, 2008
PERANGKAP DOSA
Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari dan mengikat (menanam) toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.
Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang sedang digenggamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.
Kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, terus terperangkap dalam dosa, karena kita tidak mau melepaskan kesenangan-kesenangan, benda-benda yang dapat menjerumuskan kita dalam dosa.
KRISTUS TELAH MENEBUS KITA DARI SEMUA DOSA DAN PELANGGARAN JADI HIDUPLAH DALAM KEKUDUSAN, JANGAN TERJEBAK DALAM PERANGKAP DOSA. (ROMA 6:11)
Minggu, September 28, 2008
BUAH KESABARAN

Sebab kamu memerlukan ketekunan,supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah,
kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.(Ibrani 10:36)
Catatan sejarah dunia telah mencantumkan sejumlah besar nama penting yang menoreh keberhasilan karena bersedia tekun/sabar. Sebut saja Beethoven. Setiap karya musikalnya harus ditulis sekurang-kurangnya dua belas kali. Josef Haydn membuat lebih dari delapan ratus komposisi musik sebelum menghasilkan The Creation yang menjadikan sangat terkenal.
Jauh sebelum buah dari kesabaran atau ketekunan ini dialami oleh para tokoh dunia ini, firman Tuhan sudah memberikan petunjuk. Seyogianya seseorang memerlukan ketekunan. Jika kita bertekun dan setia dalam melaksanakan hal apapun yang Tuhan percayakan bagi kita, hasil akan kita peroleh.
Penulis Ibrani menyadari bahwa hal putus asa dan kecewa sedang menghantui perjalanan rohani para penerimanya. Sama halnya dengan kita dewasa ini. Bila sedang putus asa atau kecewa dengan keadaan hidup kita dalam mengikut Tuhan, bacalah kembali ayat ini sekuat-kuatnya. Kita memang perlu lebih tekun lagi dan sabar.
Tujuannya agar kita dapat bertahan dan akan memperoleh hasil yang Tuhan janjikan kepada kita. Ingatlah bahwa selama kita masih hidup, perjalanan dan tanggung jawab kita belum usai. Majulah terus di dalam kekuatan kuasa Tuhan. Pada akhirnya kita akan menerima upah bila bertemu dengan kekasih jiwa kita, Yesus Kristus.
“Anda tidak akan menikmati buah kesabaran bila tidak memanfaatnya!!”
Jumat, September 19, 2008
Terapi untuk Tukang Kritik
Yesus Tuhan dan juruselamat kita sangat adil dalam memberikan hukum-hukum rohani untuk hidup bersama. Lihat saja pernyataan Matius 7:3 di atas. Di dalamnya tertera suatu pesan penting yaitu apapun yang tidak kita sukai dari orang lain, itu juga yang harus kita koreksi dari diri kita sendiri. Jika tidak, maka kita sudah bersikap tidak adil.
Siang itu, seorang wanita yang sering mengeluarkan kata-kata sindiran kepada orang lain kena ‘batunya’. Seorang rekan kerjanya dengan keras melontarkan kata-kata terguran atas suatu kesalahan yang telah dibuatnya. Karena posisinya lebih rendah, iapun diam saja. Ketika kembali ke ruangnya, iapun terdiam.
Dalam kekesalan hatinya, terdengar bisikan suara hati, “diamlah dan pikirkan dirimu.” Karena binggung dengan maksud suara itu, ia berusaha tenangkan pikirannya dan mulai bekerja. Sisa waktu kerjanya dipakai untuk diam dan pikirkan dirinya. Luar biasa hasilnya, kejadian itu menjadi kesempatan untuk koreksi diri.
Kesadaranpun muncul. Ia tidak akan menjadi seorang tukang kritik karena apa yang dialaminya sangat menyakitkan.
Benarlah perkataan Tuhan, jika kita ingin menjadi seorang yang ingin menjadi pengkritik, tolong periksa dulu, apakah kita telah benar dalam hal yang hendak kita kritik dari orang lain. Ini terapi yang paling ampuh untuk tukang kritik.
“Sebelum mengkritik, tolong periksa dulu dirimu dan pastikan Anda tidaklah demikian.!!”
Selasa, September 09, 2008
QUA VADIS: KEMANA KAMU MAU PERGI?
Mengikut Yesus dan melayani-Nya tidaklah mudah. Penyangkalan diri dan ketaatan menjadi tuntutan mutlak. Tantangan karena nama Tuhan menjadi bagian di dalamnya. Yesus telah bersabda, setiap orang yang hendak mengikut –Nya memang harus memikul salib. Kebenaran ini terbukti dalam kehidupan para rasul yang bergiat dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus. Seperti rasul Petrus, sang pemimpin gereja mula-mula. Ketika melaksanakan perintah Tuhan untuk mewartakan Injil ke Roma, rasul Petrus pernah mengalami masa-masa tersulit dalam pengiringan dan pelayanannya kepada Tuhan Yesus. Tekanan dalam pelayanannya sangat berat. Ia bersiap-siap untuk meninggalkan kota Roma.
Segera Petrus mempersiapkan semua perbekalannya dan meninggalkan kota Roma. Sementara berjalan itulah dia bertemu dengan seorang berjubah putih yang berjalan berlawan arah. Orang itu bertanya kepada Petrus, “QUA VADIS?” (bhs LATIN: Kemana kamu mau pergi?). Jawab Petrus, “meninggalkan Roma.” Orang itu menjawab, “Saya tetap akan ke Roma, apapun yang terjadi.” Petrus menyadari ini berasal dari Tuhan. Kenyataannya memang Yesuslah yang berjumpa dengannya. Pertanyaan Yesus ini berhasil menyadarkan rasul Petrus. Dia Diapun berbalik ke Roma dan menjadi martir bagi Yesus seperti yang telah dinubuatkan sebelumnya.
Mungkin hari ini kita seperti Simon Petrus, murid Yesus yang sedang putus asa dan bergegas untuk meninggalkan panggilan dan pelayanannya. Sebelum bertindak lebih lanjut, cobalah untuk dengar pertanyaan Yesus, “QUA VADIS?” Saran firman Allah, jangan putus asa tapi belajarlah dari Yesus. DIA telah menanggung seluruh tantangan yang berat untuk menyelesaikan tugas-Nya bagi kita. Sudah selayaknya kita juga bertahan hidup bagi DIA dan bukannya menjadi lemah dan putus asa. Ingatlah Tuhan Yesus beserta kita, jangan pernah menyerah, tetap bersemangat dan berjuang hingga akhirnya.
“Bila keputusasaan melanda hidupmu, segera ingat tindakan Yesus: DIA tetap bertahan dan menang. Kita juga haruslah demikian”
Jumat, September 05, 2008
SENJATA YANG MEMATIKAN
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. (Amsal 24:10)
Bila kesesakan telah menimpa hati seseorang, bentuk ekspresinya dapat saja terungkap dalam berbagai macam cara. Jika seseorang dapat mengendalikannya, ekpresi itu mungkin saja tidak terlihat oleh orang lain. Namun bagaimanapun menyembunyikan akan terbaca oleh orang di sekitarnya.
Amsal 24:10 memberitahu suatu pertalian yang harus dihindari ketika kesesakan menimpa hidup seseorang. Sebuah pantangan dalam menghadapi kesesakan ialah jangan menjadi ‘kecut hati’ atau berkecil hati. Ini akan menjadi senjata yang mematikan.
Larangan ini bertujuan menjaga daya juang kita. Ketika seseorang berkecil hati, daya juangnyapun berkurang. Bila daya juang berkurang, kemampuan untuk mengatasi kesesakanpun mengecil. Dengan demikian, pastikan hati kita tetap penuh semangat dalam Tuhan sekalipun kesesakan hidup terus melanda.
“Bentengi hati kita dengan semangat juang dalam Tuhan, kesesakan pun dapat diatasi.”
Rabu, Agustus 27, 2008
MENGUCAP SYUKUR TANPA BATAS
Kehidupan tidak selalu memberikan yang kita harapkan, karena itu daripada kita bersunggut untuk duri di sekeliling mawar, lebih baik nikmati keindahan mawar yang dikelilingi duri. Marilah kita penuhi hidup kita dengan ucapan syukur senantiasa. ‘Ucapan Syukur’ merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Seperti halnya mengampuni adalah tanpa batas, maka mengucap syukur juga seharusnya tanpa batas. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Artinya dalam keadaan apapun kita harus bersyukur. Ketika kita bersyukur dalam keadaan yang tidak menyenangkan maka sebenarnya kita seolah-olah sedang menyatakan tanda persetujuan kita atas apapun yang untuknya Tuhan sedang proses dalam hidup kita.
Di dalam keadaan paling tidak menyenangkan sekalipun sebenarnya kita masih punya banyak alasan untuk bersyukur. Sebagai contoh, kita bisa bersyukur untuk jalannya jantung kita secara normal. Jantung merupakan organ yang paling penting yang terletak di pertengahan dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Walaupun beratnya sekitar 200-300 gram saja, tetapi jantung bisa berkontraksi terus-menerus tanpa berhenti sedikitpun. Dengan sekali kontraksi sekitar 70 ml darah dikeluarkan. Jumlah kontraksi jantung kira-kira 70 denyutan permenit yang mengalirkan darah 5 liter dari jantung ke seluruh tubuh.
Dengan memperhatikan segala perbuatan Tuhan yang besar bagi kehidupan kita, maka sudah sepantasnya kita menjadi orang-orang yang tahu bersyukur. Salah satu bagian dari lagu rohani yang lama memberitahu kita untuk menghitung-hitung berkat Tuhan. Dengan melakukannya kita akan heran betapa hebatnya pertolongan Tuhan bagi kita. Jadi, tunggu apa lagi, mulailah jalani hari ini dengan penuh pengucapan syukur.
“Ucapan syukur dalam segala keadaan adalah tanda persetujuan kita atas semua yang Tuhan lakukan bagi hidup kita itu baik.”
Jumat, Agustus 15, 2008
Mengikuti Pertandingan dengan Selayaknya
Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. (I Tim. 6:12)
Seorang wanita tua rentah didapati ikut menonton siaran langsung final kejuaraan sepak bola dunia 2006, di sebuah kampung. Ketika ditanyakan alasannya untuk menonton, iapun menjawab, ‘karena ini adalah pertandingan dengan para pemain yang handal dan pertandingannya seru, karena itu layak ditontonnya.”
Memang benar, suatu pertandingan yang patut untuk ditonton adalah pertandingan yang diolah sedemikian rupa. Demikian halnya dengan kehidupan rohani kita. Seringkali kita lupa bahwa hidup kita merupakan sebuah pertandingan iman. Suatu pertandingan yang wajib kita selesaikan dengan tepat.
Kepada Timotius yang muda, rasul Paulus menyarankan untuk melakukan pertandingan iman dengan cara yang patut atau layak. Banyak cara ‘instant’ dan ‘tidak halal’ yang sering kita tempuh untuk mencapai tahap pertumbuhan rohani, namun mulailah pertimbangan firman Tuhan ini. Tuhan selalu ingin kita mencapai tahap pertumbuhan secara layak/patut.
Masuklah dalam pertandingan ini secara sehat. Ingat, promosi datangnya dari Tuhan. Sementara bertumbuh, tetaplah membuka diri kepada setiap kesempatan baru, jangan pernah berhenti hanya pada satu tahap pertumbuhan rohani saja. Teruslah kembangkan diri. Ini akan menjadikan diri kita, seorang pemain rohani dalam pertandingan yang patut ditonton.
Sabtu, Juni 07, 2008
BELAJAR UNTUK MEMAAFKAN DAN MELUPAKAN

Mereka melanjutkan perjalanan sampai menemukan sebuah oasis,dimana mereka memutuskan untuk mandi disana. Waktu itu orang yang menerima tamparan dan sakit hatinya,tenggelam dan temannya berhasil menyelematkannya. Setelah pulih dari rasa takutnya,ia menulis di sebuah batu:"HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.”
Yang ditanya tersenyum dan menjawab:" Saat seorang teman menyakiti kita ,kita harus menuliskannya di pasir,di mana angin maaf akan bertugas menghapusnya,dan saat sesuatu yang hebat terjadi, kita harus memahatnya di batu kenangan di hati,dimana tidak ada angin yang dapat menghapusnya."
Belajarlah untuk menulis di pasir bila sahabat saudara menyakiti anda.
Sabtu, Mei 31, 2008
POLUSI ROHANI
“Saudara-saudara yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan.” ( 2 Kor 7:1)
Dampak fatal dari kemajuan teknologi dan kemudahan seperti kendaraan bermotor ialah munculnya polusi. Polusi ini dapat saja terjadi dalam berbagai segi hidup manusia. Mulai dari polusi terhadap udara, air, suara dan lain-lain. Polusi yang terjadi itu dapat saja mendatangkan penyakit bagi para penduduk di mana polusi itu terjadi.
Sebagai mana polusi di sekitar dunia tempat kita tinggal terjadi karena kecorobohan dan ketidakpedulian kita terdapat keseimbangan, demikian pula dengan polusi rohani. Jika kita tidak menjaga keseimbangan dalam kehidupan rohani kita maka polusi rohani dapat saja menimpa iman kita. Memiliki banyak kesibukan pelayanan itu baik, tapi jika karena kesibukan kita melupakan Tuhan pemilik pelayanan itu sendiri maka kita akan menyebabkan polusi melanda kehidupan rohani kita.
Adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat daya Tokyo Jepang, bernama MINAMATA. Kota ini adalah sebuah kota para nelayan. Di teluk yang indah itu, ada banyak ikan yang hidup. Ikan itu ditangkap oleh para nelayan lalu dijual atau dimakan. Tapi karena di pinggir teluk itu didirikan sebuah pabrik kimia, Chisso Corporation yang tiap hari membuang limbah pabriknya ke teluk Minamata ini maka polusipun terjadi.
Limbah yang dibuang itu menimbulkan tingginya kadar air raksa sehingga mempengaruhi ikan-ikan. Ikan itu ditangkap dan dimakan oleh manusia maka manusia keracunan mercuri yang sangat berbahaya untuk kesehatan manusia. Diperkirakan 2.062 orang yang menderita penyakit Minamata dan 672 diantranya meninggal dunia. Kota ini pernah menjadi terkenal di seluruh dunia karena peristiwa itu.
Lebih berbahaya dari polusi di atas, kita semua harus menghindari polusi rohani yang mencemari hati dan pikiran manusia. Polusi itu masuk melalui bahan bacaan, tontonan,pendengaran dll. Karena itu lihat anjuran dalam 2 Kor 7:1: “Saudara-saudara yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan.”
“Polusi Rohani terjadi kalau kita tidak mempertahankan
keseimbangan dalam kehidupan rohani.”
Kamis, Mei 29, 2008
OKSIGEN BAGI JIWA
“Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu,
manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal 16:24)
Suatu kali, dalam perjalanan seseorang datang kepada saya dan bercerita tentang ‘penderitaan’ yang hebat yang menimpanya. Namun ketika berada dalam penderitaan akibat dari perkataan yang menyayat hatinya, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian mendengarkan isi hatinya. Tanggapan orang tersebut cukup sederhana saja, ia hanya berkata, “Kamu BISA hadapi semua itu bersama dengan Tuhan Yesus.” Sebaris kalimat itu telah mengubah keinginannya untuk bunuh diri.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 1/5 dari hidup manusia ini dihabiskan untuk bicara. Dalam satu hari kita bisa menghasilkan 50 halaman buku dari ucapan kita. Jika satu tahun diperkirakan kita bisa menghasilkan kurang lebih 132 buku @ 200 halaman. Hanya sayangnya, kebanyakan isi pembicaraan kita itu berupa kemarahan, ketidakpedulian dan ‘sampah.’
Sadarilah bahwa setiap hari, kita bisa menjadi ‘pengarang’ untuk mengisi buku kehidupan orang lain. Betapa menyedihkan sekali bila yang terjadi, justru lebih banyak perkataan yang sembrono dan menyakiti orang lain. Padahal dengan perkataan kita sebenarnya kita bisa memberikan kekuatan kepada orang lain. Justru, salah satu perbuatan kasih yang paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan kata-kata penguatan kepada orang lain.
Hal ini tidak berarti kita tidak perlu memperbaiki kesalahan orang lain namun caranya untuk mengatakan itu yang perlu. Ketika kita tahu seseorang sedang berada dalam kedukaan dan penderitaan, maka tugas kita adalah memberikan kata-kata yang lembut. Kata-kata yang lembut mengobati hati remuk. Sebab ketahuilah dorongan dan kata-kata yang menguatkan ibarat oksigen bagi jiwa, memberikan kesegaran bagi tubuh yang ‘remuk’ oleh berbagai kesulitan hidup.
“Janganlah simpan ucapan penuh kasih terhadap seseorang sampai ia mati; jangan tuliskan di batu nisannya, tetapi ucapkanlah sekarang.”
Kamis, Mei 22, 2008
Tuhanlah Penjagamu
Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; IA akan menjaga nyawamu (Mazmur 121:7)
Suatu malam di musim dingin, terjadilah badai salju yang hebat sehingga ia kehilangan arah. Lama berjalan, iapun kedinginan dan kelaparan, maka pingsanlah dia karena lelah. Setelah siuman, ia berdoa, “Tuhan Yesus, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku. Tolong jaga saya. Datang dan selimuti saya Yesus sepanjang malam ini.”
Iapun tertidur nyenyak, ia merasa hangat dan sejuk sekali. Ketika pagi tiba, iapun membuka matanya dan sangat terkejut karena ternyata ia sedang memeluk seekor harimau yang besar. Doa kembali dipanjatkan dan harimau itu tanpa bertindak yang kasar, pergi meninggalkannya.
Itulah Tuhan kita, DIA tahu bagaimana menjaga kita dari segala macam kecelakaan. Tuhan Yesus mampu melindungi kita dari segala niat orang yang jahat. DIA sanggup untuk menjaga nyawa kita dari segala ancaman yang membahayakan jiwa kita. Karena itu, letakkkan hidup kita dalam tangan Tuhan yang kuat sepanjang hari ini. Selamat menjalani hidup dengan Tuhan Yesus, sang penjaga kita.
Jumat, April 04, 2008
LET'S THINK AND DO IT
Adalah benar bahwa kasih seharusnya menjadi BAGIAN MENDASAR dalam kehidupan kita. Dimana ada kasih, di situlah rumah kita. Akan ada senyum bagi yang berduka, hati yang terluka akan dibalut.
Supaya kita dapat mengasihi, kita perlu bersedia untuk memberi. “Anda akan mengetahui dalamnya kasih melalui memberi.”
Bila kasih Kristus terpancar dari kehidupan kita maka KRISTUS akan diwartakan dan dimuliakan dalam kita. Ingatlah hubungan kita dengan orang lain merupakan gambaran dari hubungan kita dengan Tuhan. Jadi... mulailah berpikir tentang KASIH dan wujudkan KASIH dalam perjalanan hidup kita sepanjang hari.
Jumat, Februari 01, 2008
KITA TAHU SEKARANG
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.( Roma 8:28 )
Dalam bencana yang sedemikian hebatnya, muncul pernyataan iman mereka terhadap Roma 8:28, “Allah pasti akan mendatangkan kebaikan dari keadaan yang buruk ini demi kepentingan kerajaan-Nya” Kata mereka. Justru dalam keadaan semacam itu, mereka dapat melihat campur tangan Allah. Musibah itu membuka telinga umat Kristen di Inggris dan mereka ikut memberikan bantuan dan memuji pekerjaan Carey yang sebelumnya tidak pernah dihargai.
Kenyataan yang dihadapi oleh para pelayan Tuhan yang setia ini boleh dikatakan tergolong bencana. Namun demikian, kita dapat melihat Allah turut bekerja di dalamnya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Persoalan yang sering menjadi pergumulan kita adalah kebaikan yang Allah janjikan jauh berbeda dengan yang kita bayangkan.
Banyak kali kebaikan Allah tampak membahayakan bila ditinjau dari sudut pandang mata jasmani. Kebaikan Allah bersifat rohani. Namun yang pasti Allah turut bekerja, mengubah tragedi menjadi kemenangan. Karena itu apapun yang terjdi mari kita ijinkan Allah untuk turut bekerja di dalamnya. Kita akan melihat selalu ada kebaikan Tuhan dalam setiap persoalan yang kita alami. Kebaikan yang Ia sediakan bagi kita yang mengasihi Dia, yang terpanggil menurut rencana-Nya.
seharusnya membuat kita semakin kuat dalam segala kesulitan hidup.”
Kamis, Januari 31, 2008
Ada Yesus
“Hadapilah hari ini dengan satu fokus: ada Yesus, ada pertolongan.”
